Jumat, 15 Maret 2013

Psikologi psikoterapi


a.            Pengertian psikoterapi
Psikoterapi lahir pada abad pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni”psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sederhananya jiwa dan “herapy” dari bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang”. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychotheray” tidak tercantum, tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan menggunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
b.       Tujuan psikoterapi
Berikut ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoteapi yang banyak peminatnya, dari dua tokoh yakni Ivey dan Corey
Tujuan psikoterpi dengan pendekkatan psikodinamik menurut Ivey adalah: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekontruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
Tujuan psikoterapi ndengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewatdan bekerja melalui konflik-konflik yangb ditekan melalui pemahaman inteketual.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian terpusat pada pribadi  menurut Ivey : perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus ditentukan oleh klien. Corey menjelaskan mengenai hal ini sebagai berikut :
Terapi perilaku bertujuan untuk menghilangkan perilaku yang maladaptive dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif. Memusatkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan mencari apa yang dapat dilakukan terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun tujuan terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bisa tercapai.
Sehubungan dengan terapi berhavioristik Ivey menjelaskan mengenai tujuan pada terapi kognitif-behavioristik yakni : menghilangkan cara berpikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Selanjutnya perilaku yang nyata berdasarkan cara berpikir seperti itu.
Corey merumuskan mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi dengan menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dan toleran. Untuk membantu pasien mempergunakan metode yang lebih ilmiah atau objektif  untuk memecahkan masalahemosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt dirumuskan oleh Ivey sebagai berikut : agar se3seorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanbggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
c.     Unsur psikoterapi
Masserman menyebutkan 8 unsur psikoterapi :
a.         Peran sosial
b.        Hubungan (persekutuan tarapeutik)
c.         Hak
d.        Retrospeksi
e.        Reduksi
f.          Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
g.         Rekapitulasi

d.    Perbedaan psikologi dan konseling
Menurut Johana E. Prawitasari (1992) menyebutkan bahwa konseling itu merupakan istilah yang berasal dari dunia pendidikan, sedangkan psikoterapi dari kedokteran. Konseling biasanya dipakai untuk orang yang relatif normal,sedangkan psikoterapi digunakan untuk klien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat. Pendekatan atau metode yang dipakai biasanya hampir sama, baik dalam konseling maupun psikoterapi.
L. M. Brammer membedakan antara psikoterapi dan konseling . “Konseling itu,” kata Brammer, “menekankan perencanaan yang lebih bersifat rasional, problem-solving, pembuatan keputusan, intensionalitas, pencegahan dari beberapa penyesuaian diri, mendorong timbulnya individual situasi yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang normal.
Psikoterapi lebih mengarah kepada re-education of individual. Dasar bantuan psikoterapi adalah mencari persepsi dan perubahan secara jelas, mengintegrasikan kesadaran ke dalam kehidupan sehari-hari, memagari perasaan susah/sedih yang berasal dari pengalaman buruk di masa lalu. Psikoterapi menekankan intensitas dan tingkat keterlibatan yang lama dan lebih berhubungan dengan pengangguran beberapa permasalahan hidup
Di bagian lain Brammer mengemukakan bahwa konseling dan psikoterapi dipandang sebagai bidang kompetensi profesional yang saling berhubungan yang secara historis konseling digambarkan dengan kata : educational, vocational, supportive, situational, problem-solving, wajar dan sadar, normal saat sekarang, berjangka pendek. Sedangkan psikoterapi digambarkan dengan istilah supportive (dalam setting krisisi), recontructive, penekanannya lebih dalam, bersifat analisis, berfokus pada lampau, penekanannya pada neurotik, atau problem emosional yang lain dan jangka waktunya lama.
Robinson 1950 mengemukakan bahwa konseling adalah sebagai bantuan orang normal untuk memperoleh tingkat keterampilan penyesuaian yang lebih tinggi. Perubahannya dapat dilihat seperti meningkatnya tingkat kematangannya (matuirity), ketidaktergantungannya, integritas kepribadiannya, dan responsifnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka perbedaan konseing dan psikoterapi dapat dilihat dari beberapa aspek yang terdapat pada kolom berikut ini.
No.
aspek
Layanan konseling
Psikoterapi
1.
Ruang lingkup
Bagian dari program bimbingan konseling
Berada di luar bimbingan
2.
kedalam

-perencanaan yang rasional
-pemecahan masalah berhubungan dengan pemahaman diri dan lingkungan
Perubahan mendasar dari kepribadian
3.
Subyek/sasaran
-individu normal
-lebih menekankan individu/kelompok kecil
-individu yang mengalami disintegrasi kepribadian
-mengutamakan individu
4.
Orientasi / pendekatan
Menekankan kesinian dan kekinian
Menekankan masa lampau, simbolik dan mengaktifkan kembali alam ketidaksadaran
5.
setting
Sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, organisasi kemasyarakatan
Klinik, rumah sakit, praktik pribadi
6.
Waktu
Relatif terbatas
Relatif lama (berhari-hari, minggu, bulan atau mungkin tahunan)
7.
Tujuan
Mengatasi tugas-tugas perkembangan
Mengatasi konflik-konflik dalam diri seseorang

e.  Pendekatan psikoterapi terhadap mental illnes
a)      Biological
Pendekatan yang lebih manusiawi. Berkembang saat itu adalah penyakit mental disebabkan karen kurangnya insulin.
b)      Psychological
Pendekatan ini berpengaruh pada sosial, ketidak mampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
c)       Sociological
Pendekatan ini meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, harus mempertimbangkan pengaruh proses sosialisasi yang berlatar belakangan kondisi sosio-budaya tertentu.
d)      Philosophic
Menentukan keinginan dan nilai pada kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang, pendekatan ini juga menghargai sistem nilai yang dimiliki klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

f.       Bentuk utama terapi
Ada 3 bentuk utama dalam terapi yaitu
1.       Terapi suportif
Disebut juga sebagai psikoterapi hubungan menawarkan dukungan kepada pasien, pendekatan ini juga memeiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Psikoterapi suportifadalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tyujuan menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkansuatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Untuk mengembalikan keadaan jiwa yang rapuh ataupun mengalami gangguan ke arah keseimbangan, yang terutama dilakukan adalah menekan ataupun mengontrol gejala-gejala yang terjadi dan untuk menstabilkan pasien ke dalam suasana yang aman dan terlindungi untuk melawan ataupun menghadapi tekanan yang mungkin saja berat naik yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasiatau eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.

2.       Terapi reducative
Tujuannya adalah untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tukuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.

3.       Terapi reconstructive
Terapi ini tujuannya adalah untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensu penyesuaian yang baru.

Dapus :
Gunarsa, Singgih. D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. PT. Ikrar mandiri abadi. Jakarta
IKAPI. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Sholeh. Moh. 2008. Bertobat sambil berobat.penerbit hikmah. Jakarta
Simanjuntak, Julianto. (2008). Konseling gangguan jiwa dan okultisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.